Yesterday Beatles

Selasa, 14 September 2010

Cara mengatasi vertigo


Bagi mereka yang belum pernah merasakan serangan vertigo mungkin agak sulit dibayangkan bagaimana rasanya. Namun sebaiknya tidak perlu merasakan karena pada saat terjadi tidak ada seorangpun yang mampu menolong. Pengalaman saya adalah dengan cara mencegah dan menghindari serangan vertigo. Hindari posisi yang memicu serangan , cepat kembali ke posisi semula sebelum rasa pusing datang. Tips praktis mengurangi efek bumi berputar adalah dengan melihat salah satu bagian tubuh kita yang terlihat dengan jelas. Ternyata berdasarkan pengalaman saya begitu kita melihat misalnya tangan kita sendiri maka langit dan bumi yang berputar bisa kita hentikan , paling tidak bisa mengatasi sementara perputaran langit dan bumi. Setelah browsing salah satu cara mengatasi vertigo bisa dilihat di http://medicastore.com/index.php?mod=artikel&id=260&page=0

Senin, 12 Oktober 2009

4 Point motivator


Saat break dalam sebuah meeting di kantor , teman ngobrol saya menyampaikan 4 point untuk memotivasi semangat kita , yang sumbernya entah darimana dia lupa yaitu.......
Point yang pertama adalah keinginan atau cita-cita setinggi-tingginya , yang akan kita raih.
Point kedua adalah memiliki kerendahan hati dalam menghadapi kehidupan ini.
Point ketiga adalah kita harus bekerja keras dan pintar , hard and smart.
Point yang keempat adalah kesyahduan doa.
Silakan dihayati semoga bermanfaat
>

Minggu, 11 Oktober 2009

JANGAN ABAIKAN HAL-HAL YANG KECIL

Para pembaca yang arif dan bijaksana saya masih ingat tatkala bayi kecil saya yang baru berumur beberapa bulan menangis keras dan saya tidak tahu harus berbuat apa karena kebetulan ibunya sedang pergi. Sudah saya upayakan saya bopong saya ayun-ayun kesana kemari anak saya tetap menangis dan malah semakin keras. Saat itu kebetulan saya baru pindah dari luar Jawa dan masih indekost dirumah seorang perwira tinggi POLRI di Bandung.
Dan pada saat saya kebingungan mendadak terlihat oleh saya di meja ada buah papaya yang sudah diiris-iris dan diberi gula dan jeruk nipis sisa sarapan pagi yang belum dimakan. Dengan tangkas saya kemudian membaringkan bayi saya kembali dalam keadaan masih menangis dan dengan sendok kecil yang ada dipiring kecil papaya itu saya minumkan air jeruk papaya langsung kemulut bayi saya yang masih menangis. Satu sendok kecil masih belum menghentikan tangisnya namun nampaknya langsung mulai terasakan asupan rasa manis dibibirnya.
>

Sendok-sendok berikutnya ternyata ajaib telah berhasil meredakan tangis bayi saya yang pada sendok terakhir membuatnya tertidur kembali. Dengan penuh persaan lega saya melihat bayi saya tertidur pulas , dan ternyata itu hanya berkat beberapa sendok teh air jeruk manis penyedap pepaya.
Para pembaca yang arif dan bijaksana , dalam kehidupan kadangkala kita bisa menemui hal yang secara analogi mirip dengan cerita saya diatas. Persoalan-persoalan besar ternyata telah dipecahkan dengan melalui langkah-langkah sederhana dengan materi dan sarana yang ternyata berada tidak jauh dari sekitar kita.
Dalam kehidupan yang telah diciptakan oleh sang pencipta kita yang sungguh maha segala-galanya , tujuan telah tergariskan dan untuk mencapai tujuan itu telah disediakan segala sarana dan prasarana baik didalam tubuh jiwa dan raga kita ataupun disekeliling kita.

Para pembaca sekalian implikasi dari pembahasan kita diatas membawa kita pada pemikiran bahwa apapun persoalan yang kita hadapi dan dalam kondisi apapun saat ini kita tidak perlu terlalu risau karena secara ekstrim bahkan setetes airpun bisa jadi merupakan hal kecil dan sederhana yang menjadi mata rantai pemecahannya.
Selanjutnya sebagai kesimpulan dan saran pertama adalah memang benar kita senantiasa menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupun ini. Dan persoalan itu ada karena kita hidup dan selagi kita masih hidup maka persoalan adalah bagian dari kehidupan yang normal. Orang yang selama hidupnya tidak pernah punya persoalan maka orang ini termasuk kategori orang yang bermasalah sebagai orang yang tidak normal. Artinya perlu disukuri kalau kita menghadapi persoalan karena itu adalah tanda-tanda kehidupan. Hal yang kedua ialah bahwa nampaknya kita harus jeli melihat segala sesuatu yang ada disekeliling kita atau bahkan yang ada didalam diri kita secara fisik maupun mental. Kita haruslah menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau bahkan justru yang kelihatannya tidak ada manfaatnya ternyata itu merupakan bagian dari jawaban atas persoalan yang kita hadapi.

Menurut Ralph Waldo Emerson apa yang ada dihadapan kita dan apa yang di belakang kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ada dalam diri kita. Artinya potensi persoalan apapun yang harus kita hadapi dan persoalan-persoalan yang telah kita lalui sebetulnya adalah masalah kecil dibandingkan atas potensi jawaban yang tersedia dalam diri kita. Marilah sama-sama kita buktikan apa yang disampaikannya. Wassalam.

UPAYA PENYELAMATAN PERUSAHAAN , SIAPA YANG BERPERAN ?

Masih ingat adegan saat-saat terakhir menjelang tenggelamnya kapal Titanic? Didalam film digambarkan berbagai perilaku dan sikap masing-masing individu pada saat menghadapi kritis. Tentu saja dalam kenyataannya berbagai hal bisa terjadi. Berbagai sikap akan terlihat menunjukkan sifat-sifat asli manusia sebenarnya.
Dalam film Towering inferno situasi ini digambarkan agak lebih lengkap. Luar biasa ! Walaupun musibah yang dihadapi sangat berbeda. Yang satu air dan satunya lagi api. Saya sendiri pernah mengalami saat terjebak dalam lift yang overload menyebabkan pintu tidak bisa dibuka. Saat itu kami yang merupakan rombongan karya siswa dinegeri orang menghadapi saat menegangkan karena ulah ketidak-disiplinan kami sendiri.
Saya perhatikan perilaku masing-masing orang pada saat itu. Yang paling menonjol adalah pertentangan saling menyalahkan satu sama lain. Namun demikian ada juga yang dengan sabar menenangkan kami untuk tidak panik tetapi mencari akal untuk menyelamatkan diri. Wow, sungguh melegakan disaat-saat demikian sulit masih ada yang berpikiran jernih untuk keselamatan bersama !
Kalau masih ada barangkali nenek moyang kita yang mengalami masa-masa jaya sebagai negara kelautan tentunya akan mengingatkan bahwa berbahagialah kita dilahirkan di bumi Indonesia yang dari dulunya adalah memang negara maritim. Budaya bahari diharapkan akan banyak memberikan inspirasi terhadap gaya kepemimpinan di negara kita tercinta ini.
Di lautan yang luas kita dituntut untuk berwawasan jauh kedepan sampai batas cakrawala nun jauh disana.Kita harus pandai-pandai membaca tanda-tanda zaman. Kita harus kritis menangkap isyarat karena badai datang sering kali tanpa diduga. Konon diatas kapal kita dituntut untuk memiliki perhitungan akurat. Ditengah samudra nan luas kita tidak bisa mampir dibengkel untuk membetulkan mesin.
Ditengah badai yang dahsyat kita tidak bisa minta tolong kepada orang lain. Kita harus menolong diri sendiri. Jadi kita dituntut untuk mandiri. Suatu hal yang wajar. Kita tidak bisa menghindari amukan badai dan topan. Kita justru harus mau tidak mau terpaksa menghadapinya. Mau lari kemana ? Ringkas kata budaya laut adalah kemandirian, keberanian , akurasi, kecermatan dan kecepatan bertindak , kepercayaan , kebersamaan. Budaya laut adalah budaya lebih banyak mendengar , arif mendengar bisikan dan pandai membaca tanda-tanda. Sekarang bagaimana kita menyelamatkan diri dari serangan badai yang melanda kita saat ini ? Dengan pola pikir teramat sederhana kita bisa mengatakan bahwa dunia selamat bila seluruh negara selamat. Negara selamat apabila semua unsur yang mendukung kelangsungan hidup negara juga selamat. Marilah kita teropong dengan lingkup lebih spesifik. Agar negara selamat maka semua usaha yang dilakukan oleh ketiga soko guru ekonomi kita haruslah selamat. BUMNnya, swastanya , koperasinya haruslah selamat. Perusahaan selamat apabila semua masyarakat atau karyawan selamat. Sebaliknya tentunya karyawan selamat bila perusahaan tetap berjalan. Dimasa-masa sulit seperti ini Lembaga Menteri negara pemberdayaan BUMN berperan strategis dalam rangka meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional. Apalagi sosok personil dibelakangnya dengan latar belakang pengalamannya yang luas dibidangnya merupakan figur yang diharapkan bisa memberikan hasil yang maksimal sebagaimana yang kita damba-dambakan. Disaat-saat awan gelap menggelantung diatas kita, tumpuan dan harapan karyawan hanyalah tertuju kepada tempat mereka Masalah bekerja saat ini. Maklum cari kerja ditempat lain adalah suatu hal yang sulit kalau tidak boleh dibilang tidak mungkin. Dengan demikian tentunya tidak ada pilihan lain bagi karyawan selain berjuang mati-matian mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Pada saat seperti itu tentunya merupakan saat yang tepat bagi perusahaan untuk memotivasi karyawan agar mau berpartisipasi aktif bersama-sama berpikir agar dapur tetap berasap ! (Catatan : pada umumnya masih banyak perusahaan yang tidak berpikir positif merangkul karyawan untuk bertahan hidup , bahkan karyawan justru ditakut-takuti dengan kemungkinan PHK yang tidak bisa dihindarkan. Akibatnya bukan kontribusi pemikiran jalan keluar yang diperoleh perusahaan melainkan justru sumpah serapah dan doa jelek untuk perusahaan dari karyawan yang berada pada posisi lemah). Demikian juga bagi karyawan tentunya saat-saat sekarang adalah saat-saat yang tepat untuk bersikap proaktif, memikirkan jalannya perusahaan. Karyawan yang reaktif akan mengatakan ; "Mengapa kita mesti memikirkan perusahaan , toh perusahaan belum tentu memikirkan kita- ! ". Karyawan yang proaktif akan mengatakan ; " Apapun yang dilakukan perusahaan, saya harus tetap berjuang mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Bukan orang lain yang memikirkan kita tetapi harus kita sendirilah berinisiatif mempertahankan periuk nasi kita !" Mengevaluasi perkembangan usaha. Evaluasi terhadap suatu perkembangan usaha adalah suatu hal yang wajar untuk dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh usaha tersebut memperoleh kemajuan. Upaya evaluasi ini sebetulnya tidak hanya dilakukan pada saat suatu usaha mengalami masaalah namun akan semakin dirasa kebutuhannya pada saat kita mengalami masaalah yang berat. Evaluasi secara rutin adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya masaalah yang berat dikemudian hari. Pola pikir ini kita kembangkan dengan berlandaskan atas konsep pemikiran First Thing First karya Stephen Covey. Pola pikir ini mencoba meneropong lebih jelas mengenai pilihan kegiatan yang mana yang lebih didahulukan antara penting tidak mendesak atau mendesak tetapi tidak penting. Tentu saja terlebih dahulu kita harus bisa membedakan mana yang penting dan mana yang mendesak. Penting bisa didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana sesuatu kegiatan akan berpengaruh terhadap misi atau visi kita, nilai kita , tujuan prioritas kita. Tujuan prioritas kita hendaknya memandang segala pihak secara seimbang. Tidak ada tujuan yang mementingkan perusahaan saja, atau mementingkan karyawan saja atau pihak lain yang berkepentingan terhadap tercapainya tujuan tersebut. Semuanya hams dianggap sebagai pertimbangan yang sama tingkatannya. Dengan demikian maka tujuan tersebut akan memiliki nilai yang tinggi. Pengertian mendesak adalah suatu situasi atau kondisi yang memerlukan perhatian segera. Apabila kita mendahulukan hal yang mendesak tetapi tidak penting maka lambat atau cepat kita akan sampai pada tahapan dimana semuanya menjadi penting dan,­mendesak. Kegiatan yang mencerminkan situasi yang penting dan mendesak adalah krisis, masaalah yang mendesak, kegiatan yang digerakkan oleh batas waktu. Ini akan berakibat timbulnya stress, keletihan, manajemen krisis, selalu memadamkan krisis. Sedangkan apabila kita berorientasi kepada hal-hal yang penting meskipun tidak mendesak yang berhubungan dengan hal-hal seperti membina hubungan, menulis misi pribadi, perencanaan jangka panjang, pelatihan, pemeliharaan pencegahan, persiapan , semua hal yang kita tahu perlu kita kerjakan ,tetapi entah bagaimana jarang kita lakukan karena tidak mendesak. Kita ingat kata-kata Peter Drucker yang mengatakan bahwa orang yang efektif adalah orang yang pikirannya tertuju pada peluang, bukannya tertuju pada masaalah. Mereka memberi makan peluang dan membuat lapar masaalah serta berpikir preventip. Dengan pola pikir seperti tersebut diatas maka jelas bahwa tindakan evaluasi secara rutin akan menghindarkan kita berakhir pada situasi yang krisis tanpa kita sadari. (lngat Boiling frog phenomenon - Fenomena Kodok dalam air mendidih ; seekor katak yang dicemplungkan kedalam air mendidih akan loncat keluar dengan cepat, tetapi kalau katak tersebut kita masukkan kedalam air dingin kemudian dipanaskan sampai mendidih maka katak tersebut akan tetap tinggal dalam air sampai mati tanpa disadarinya). Postur strategis perusahaan. Untuk bisa mengevaluasi suatu kegiatan usaha maka kita harus mulai dengan membuat suatu gambaran atau postur strategis perusahaan. Kita mencoba meneropong perusahaan dengan mengidentitikasikan semua variabel strategis yang ada. Yang kita lihat tidak hanya sekedar kinerja atau hasil. Tetapi terlebih kita harus melihat semua variabel yang lebih mendasar. Kinerja hanya mencerminkan situasi jangka pendek yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sedangkan efektititas variabel yang lain yang lebih filosofis akan kita lihat sebagai suatu hal yang akan berpengaruh terhadap kinerja jangka panjang.
Dengan kata lain kinerja pada suatu saat hanya mencerminkan kondisi perusahaan secara situasional sedangkan peneropongan terhadap variabel-variabel yang lebih kehulu secara filosofis akan memberikan gambaran kondisi perusahaan secara struktural yang berdampak jangka panjang. Oleh karena itu Corporate Plan tidak berarti apa-apa, yang penting adalah Corporate Planning. Kinerja suatu perusahaan yang umumnya untuk BUMN digambarkan secara kuantitatif dengan Nilai Key Performance Indicator lebih banyak memberikan bobot kepada aspek Keuangan dan operasional yang notabene adalah hasil akhir saja , sedangkan aspek pembelajaran dan kepuasan pelanggan bobotnya tidak terlalu besar. Artinya Konsep Balanced Scorecard yang melatarbelakangi penyusunan nilai KPI tidak diterapkan secara konsisten. Apa kata para pakar ? Terkait dalam masaalah ini kita memiliki landasan berpikir lama dan baru. Model lama adalah yang kita kenal dengan istilah Perencanaan Strategis Perusahaan atau Corporate Planning yang secara umum merujuk kepada 7 S dari McKinsey. Sedangkan yang baru adalah apa yang diuraikan dalam konsep Hiperkompetisi dari Richard d'Aveny. Konsep Hiperkompetisi ini sendiri belum begitu populer dikalangan awam bahkan tidak semua sekolah bisnis membuat rujukan kepada konsep tersebut. Demikian juga petunjuk penyusunan Rencana Jangka Panjang Perusahaan BUMN dari Departemen Keuanganpun masih belum menyinggung konsep hiperkompetisi. Dengan adanya konsep baru dari d'Aveny walaupun dirasakan ada beberapa perbedaan penekanan pendekatan oleh beberapa pakar, saya tetap berpendapat dua pendekatan ini tidaklah perlu terlalu bertentangan.
Kita masih bisa menjembatani dua alur pikir tersebut dengan mengkombinasikan pemikiran jangka panjang dalam Corporate Planning dan pemikiran yang berpusat pada Market Disruption (Kegoncangan Pasar). Bagaimanapun juga meskipun intensitas perubahan yang terjadi dipasar sedemikian besar kita tetap memerlukan suatu pemikiran yang berdampak jangka panjang. Target jangka panjang tetap harus kita buat sebagai tindakan yang strategis sedangkan langkah-langkah pendek simultan menjadi rangkaian taktik yang mendorong kita untuk mencapai suatu tujuan jangka panjang. Dengan demikian diharapkan untuk menentukan strategi perusahaan kita mulai dengan pendekatan Perencanaan Strategis dan kemudian kita elaborasi menggunakan pendekatan Hiperkompetisi. Proses perencanaan Strategis bisnis. Proses perencanaan strategis perusahaan sebagaimana sudah kita ketahui bersama diawali dengan perumusan Visi yang men-drive Misi perusahaan yang kemudian diikuti dengan Formulasi Tujuan (Objective) , kemudian Analisa SWOT, Formulasi Strategi, Formulasi program, Implementasi dan akhirnya diharapkan ada umpan balik dan pengendalian terhadap Analisis SWOT , Objective, Strategy, Program dan Implementation. Keberhasilan suatu perusahaan ditentukan dari sejak awal oleh kualitas formulasi Visi dan Misi. Ini pada akhirnya akan membentuk budaya yang kuat yang adaptif (sekali lagi jangan lupa yang adaptif, karena menurut John P.Kotter dan James L. Heskett , budaya kuat yang sesuai saja tidak cukup tetapi haruslah fleksibel dan adaptif) yang bisa mendrive kinerja perusahaan menuju pencapaian tujuan. Konsep 7 Ss McKinsey. McKinsey menyimpulkan bahwa Nilai Bersama (Shared Value) memiliki posisi yang sangat sentral. 3 S yang pertama yang merupakan perangkat keras perusahaan adalah Strategi, Struktur dan Sistem. Sedangkan 4 berikutnya yaitu Shared Value, Skill, Staff dan Style merupakan perangkat lunak. Menurut McKinsey , kalau perangkat lunak ini ada maka perusahaan biasanya lebih berhasil dalam pelaksanaan. Secara umum apabila kita ingin membuat semacam analogi antara pola pikir McKinsey dan d' Aveny maka Market disruption yang merupakan pusat perhatian dari d' Aveny akan menggantikan kedudukan Shared Value dari konsep McKinsey. Menurut d'Aveny nilai bersama yang berkonotasi jangka panjang digantikan oleh situasi pasar yang senantiasa berubah. Namun menurut penulis tidak sepenuhnya konsep McKinsey bermakna permanen selamanya. Bagaimanapun Misi atau Visi bahkan tujuan perusahaan bisa setiap saat di update tergantung pada tinjauan SWOT analysis yang setiap saat bisa dilakukan. Apabila tujuan perusahaan tidak terdukung oleh kenyataan evaluasi hasil SWOT Analysis maka tentunya tidak ada gunanya mempertahankan strategi yang telah dirumuskan dalam Corporate Plan ! Sampai tahap ini kita bisa melihat bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu mendasar antara konsep McKinsey dan d'Aveny.
Shared value adalah nilai yang setiap saat harus bisa dibentuk kembali karena berdasarkan penelitian Kotter dan Heskett budaya yang mendukung kinerja adalah budaya yang sesuai tetapi juga adaptif terhadap pengaruh lingkungan. Perusahaan dalam kurun waktu tertentu dengan budaya kuat yang sesuai berkinerja baik tetapi terbukti beberapa waktu kemudian mengalami penurunan karena budaya tersebut tidak bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dengan demikian maka penyusunan Rencana Jangka Panjang perusahaan bagaimanapun tetap bisa diambil manfaatnya. Hanya saja dalam hal ini ada beberapa pokok pikiran d'Aveny yang bisa kita garis bawahi bahwa bagaimanapun kita tetap harus berorientasi kepada pasar. Keberhasilan suatu bisnis di wujudkan dalam bentuk kemampuan perusahaan memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk menghadapi ancaman maupun peluang yang ada diluar.
Kita tidak bisa mengatur peluang yang ada diluar , pasarlah yang akan mengatur kita. Oleh karena itu perusahaan harus bisa dengan jelas merumuskan keinginan semua stake holder, mengambil langkah mencari peluang strategis, dengan mengandalkan kecepatan dan kejutan-kejutan, menentukan medan persaingan yang diinginkan , pandai-pandai membaca signal/tanda-tanda, mengambil langkah strategis yang berkesinambungan secara simultan. Sebagai bahan renungan dan catatan akhir , dengan maraknya konsep Blue Ocean strategy akhir-akhir ini nampaknya kita akan sangat dipengaruhi dalam proses Corporate Planning , karena tools-2 utama yang kita gunakan selama ini lebih condong kepada pemetaan posisi perusahaan dalam era kompetisi yang kemudian semakin chaos karena kita ternyata sudah masuk dalam era hiperkompetisi. Padahal konsep lautan biru bernada anti kompetisi. Wallahualam

MEMANUSIAKAN MANUSIA KONSTRUKSI.

I. Pokok Pikiran.
Konon manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dari makhluk lain. Dan manusia yang terlahirpun telah melalui proses penyaringan yang bukan main ketatnya. Dengan demikian semua manusia yang hidup didunia sebenarnya merupakan makhluk pilihan , makhluk terbaik dengan berbagai keunggulan dan kelemahannya. Namun kemudian menjadi suatu pertanyaan besar mengapa kita melihat begitu banyak kelemahan yang ditunjukkan oleh manusia. Begitu banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tadinya kita lihat sebagai orang-orang yang hebat. Memang benar bahwa baik atau buruk , bisaa atau hebat adalah pernyataan pikiran saja yang cenderung relatif tergantung darimana kita memandangnya , tergantung sudut pandang atau paradigma kita. Namun demikian marilah kita kaji kembali sejauh mana sebetulnya kehebatan manusia.II. Manusia ditengah lingkungannya.

Manusia adalah bagian dari suatu kelompok masyarakat. Dalam skala kecil manusia sebagai bagian dari kelompok yang ada dalam suatu organisasi atau perusahaan. Saat ini kita memang sudah melihat manusia sebagai bagian dari suatu organisasi dengan cara yang berbeda. Para pakar mengatakan bahwa manusia dalam perusahaan sekarang merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting yaitu sumberdaya manusia diantara sumberdaya-sumberdaya yang lain yang dimiliki perusahaan. Dilain pihak kita masih ingat istilah the man behind the gun. Mengapa the man behind the gun ? Mengapa tidak the gun in front of the man ? Disini kita bisa menterjemahkan bahwa manusia diberikan posisi lebih penting. Faktor manusia dikedepankan dibandingkan dengan senjata atau alat yang merupakan juga salah satu sumber daya dalam perusahaan. Kita juga tahu bahwa senjata yang hebat sekalipun apabila tidak ada manusia yang menjalankannya maka senjata itu tidak membawa manfaat apa-apa. Senjata yang hebat tentunya hanya akan bisa dioperasikan oleh orang-orang yang hebat juga yang mampu memahami dan mengambil manfaat dari kehebatan senjata tersebut. Ini berarti bahwa senjata sederhana masih lebih baik apabila dioperasikan oleh orang-orang yang tahu memanfaatkan senjata tersebut dibandingkan senjata canggih yang digunakan oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan memadai untuk bisa memahami dan memanfaatkan kecanggihan senjata tersebut. Dengan demikian kita akan bisa menjawab pertanyaan ; apabila kita ingin meningkatkan hasil, mana yang kita perbaiki lebih dahulu , alatnya ( …yang berarti sumber daya yang lain …) ataukah orangnya yang diperbaiki dulu ? Tentunya lebih masuk logika apabila kita melakukan perbaikan terhadap manusianya dulu karena dengan manusia yang baik maka kekurangan sumberdaya bisa diupayakan oleh manusia yang memiliki kemampuan baik.
Marilah kita sejenak kembali kepada pertanyaan awal yaitu mengapa manusia sebagai makhluk pilihan masih tetap melakukan berbagai kesalahan dan kekeliruan yang tidak mencerminkan kehebatannya ? Mengapa masih banyak terjadi persoalan-persoalan yang berat akibat dari kelemahan pada sector manusia yang sering kita sebut sebagai human error ? Disini akhirnya kita harus mengakui bahwa kehebatan manusia terletak disisi potensi yang dimiliki. Manusia memang memiliki potensi yang luar bisaa dalam dirinya baik fisik maupun mental. Namun semuanya itu adalah baru potensi. Artinya kalau potensi itu tidak digali dikembangkan digunakan dan dipelihara , maka semuanya akan tetap tinggal hanya sebagai potensi. Dengan berjalannya waktu ada manusia yang berhasil menggali dan mengembangkan potensinya sehingga mereka menjadi hebat pintar dengan fisik yang bagus otak yang cerdas. Memang dimungkinkan bahwa proses penyaringan terlahirnya manusia tidak berjalan dengan baik sehingga tetap muncul manusia-manusia yang dari lahirnya sudah merupakan produk cacat. Namun cacat ini tentunya bukan karena kesalahan penciptaan tapi pencipta kita tentunya tahu bahwa didunia juga diperlukan adanya produk-2 yang cacat yang akan melengkapi perjalanan hidupmanusia untuk mencapai tujuannya.
Dari pemikiran diatas maka masuk akal bahwa hanya manusia-manusia tertentu saja yang berhasil lebih baik dalam hidupnya karena mereka telah menggali , mengembangkan dan menggunakan potensi yang dimilikinya. Dengan cara bagaimana ? Tentunya dengan mengasah otot-otot fisiknya maupun otot-otot mentalnya , sehingga mereka memiliki otot yang kuat dan pemikiran yang cerdas.

III. Meningkatkan kinerja melalui pengembangan Sumber daya Manusia.

Kita sudah membahas mengapa SDM menjadi salah satu Sumber daya yang sangat penting diantara berbagai sumberdaya yang dimiliki perusahaan. Sumber daya lain yang hebat tidak akan memberikan manfaat apa-apa tanpa didukung oleh SDM yang baik yang mampu menggunakan berbagai sumber daya lain yang dimiliki perusahaan. Standard Internasional untuk peningkatan kinerja perusahaan yaitu ISO 9000 versi 2000 yang merupakan standard basic bagi perusahaan , mempersyaratkan kompetensi yang memadai bagi seorang karyawan untuk melaksanakan pekerjaannya yang dibuktikan dengan adanya sertifikat ataupun pengalaman dalam bidangnya. Didalam negeri kita sudah mulai menyadari bahwa produk-produk konstruksi memiliki mutu dibawah yang dipersyaratkan , terbukti dari banyaknya kegagalan bangunan. Munculnya Undang-undang Jasa Konstruksi mengisyaratkan pentingnya seluruh unsur yang terkait dengan kegiatan jasa konstruksi memiliki kecakapan untuk melaksanakan pekerjaannya , sehingga tenaga konstruksi berbondong-bondong mencari sertifikat melalui pelatihan-pelatihan untuk sertifikasi. Pegawai Negeri dipersyaratkan untuk tidak cukup hanya memiliki gelar sarjana untuk bisa naik pangkat ke jenjang yang tertinggi. Ramailah para pegawai mencari gelar supaya bisa naik pangkat bahkan ada yang tanpa kuliah juga maunya dapat gelar. Tentunya bukan ini yang dimaksud. Seseorang yang telah berhasil melalui proses pembelajaran ketingkat yang lebih tinggi diharapkan tentunya akan memiliki kompetensi yang lebih tinggi sehingga memberikan output yang lebih baik.
Konsep balanced scorecards mendasari pendekatannya dengan 4 perspektif yang diawali dengan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terhadap human capital. Perusahaan tidak akan berhasil melakukan kegiatannya dengan baik apabila human capitalnya tidak kompeten dan tidak punya motivasi. Sehingga orang-orang yang tidak punya kemampuan dan tidak punya motivasi dalam perusahaan sebetulnya bukan human capital malahan mereka menjadi beban perusahaan yang akhirnya menghambat laju kecepatan gerak perusahaan untuk mencapai target kinerjanya. Dengan pendekatan Balanced score cards apabila kita ingin memulai perbaikan dalam perusahaan pertama-tama yang kita lakukan ialah meningkatkan kemampuan serta komitmen dari karyawan. Kalau proses ini tidak kita lakukan maka proses bisnis kita tidak akan berjalan baik , pelanggan tidak puas dan kinerja perusahan menurun. Ketiga perspektif yang pertama dari balanced scorecards yaitu , perspektif pembelajaran dan pertumbuhan Human capital , perspektif proses bisnis internal dan perspektif pelanggan adalah merupakan faktor pemicu yang sesungguhnya dari kinerja perusahaan.
Kompetensi dan Motivasi SDM tentunya haruslah dimiliki oleh semua jajaran sampai ke top management. Oleh karena itu walaupun dalam konsep Malcolm Baldrige kriteria penilaian perusahaan yang pertama adalah kepemimpinan yang memiliki bobot cukup besar yaitu 12 % dibandingkan dengan kriteria SDM yang hanya 8.5 %. Namun kepemimpinan yang efektif tentunya dijalankan oleh SDM yang punya kemampuan dan komitmen. Dalam pendekatan Balanced scorecards maka kepemimpinanlah yang akan mengelola real driver atau pemicu kinerja perusahaan. Dengan analogi daya ungkit maka seorang pemimpin yang efektif bisa melipatgandakan kinerja perusahaan melalui kekuatan atau daya ungkit yang terletak pada faktor SDM , proses bisnis dan kepuasan pelanggan. Dengan pendekatan Lean six sigma , pemimpin yang efektif mampu membentuk team yang berorientasi kepada perbaikan sistem dengan menghilangkan setiap pemborosan dalam proses sehingga bisa memberikan nilai tambah dan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi. Untuk itu diperlukan sekelompok pasukan khusus yang berkualitas yang mampu menjadi motor penggerak dalam rangka mengidentifikasi proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah serta tingginya variasi dalam proses yang menurunkan efisiensi. Kesimpulan singkat dari diskusi kita diatas ialah , apabila kita ingin memperbaiki kinerja perusahaan mulailah dengan menggarap human capital terlebih dahulu. Perlu waktu memang dan dampaknya tidak instant tetapi dalam jangka panjang kita akan memiliki perusahaan yang secara struktural memang kuat. Silakan mencoba !

>

CARA CEPAT MEMOTRET KONDISI PERUSAHAAN.

Alkisah Prabu Yudistira yang arif berkenan untuk mengetahui keadaan kehidupan rakyat Amarta dibawah kepemimpinannya. Konon sang prabu menyaru sebagai rakyat biasa dan membaur bersama mereka disebuah dusun kecil sedikit agak jauh dari istana Amarta. Hari demi hari Yudistira yang hanya ditemani oleh dua orang ponggawa merasakan kehidupan dalam kesederhanaan di pedusunan. Bagi Yudistira hal seperti ini tidak terlalu merepotkan , mengingat sebelumnya tatkala Pandawa berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran pesanggrahan di Wanamarta , Yudistira bersama saudara-saudaranya dan Dewi Kunti menyembunyikan diri di hutan dengan kehidupan yang sangat sederhana.
Dalam waktu tidak lama Yudistira berhasil mendapatkan gambaran tentang kehidupan rakyat Amarta. Pada dasarnya Yudistira cukup gembira dengan keadaan kesejahteraan rakyatnya. Namun demikian setelah kembali ke istana , Yudistira masih berpikir bagaimana cara memperatahankan keadaan yang sudah baik ini di kemudian hari. Seorang ponggawa diutus ke padepokan Karang Tumaritis untuk menjemput Ki Lurah Semar. Petruk , Gareng dan Bagong yang sedang memancing ikan di kolam di belakang padepokan diajak serta oleh Ki Lurah Semar ke istana Amarta.
“Kakang Semar , ada sesuatu yang sedang mengusik pikiran saya saat ini. Saya ingin minta bantuan Kakang !”
“Ah , ngeran ! Hamba siap menerima apapun perintah dari Gusti Prabu “. Petruk , Gareng dan Bagong ikut mengiyakan.
“Begini kakang ,” Yudistira menceritakan kekhawatirannya akan perilaku para Kurawa yang senantiasa berupaya untuk menimbulkan masalah di kerajaan Amarta. “ Saya ingin tahu bagaimana sebetulnya kondisi perekonomian kita ini bisa senantiasa terdukung oleh hasil kerja Badan Usaha Milik Kerajaan dan Perusahaan Swasta yang lain serta Koperasi untuk masa-masa mendatang. Apakah kakang Semar bisa memberikan saran bagaimana cara saya mengarahkan para pembantu-pembantuku mengelola usaha di negeri ini.”
“ Gusti Prabu , sepanjang yang saya ketahui saat ini mereka sudah cukup baik mengelola harta kerajaan. Namun demikian kalau Gusti menanyakan tentang kelanjutannya di kemudian hari nampaknya kita harus minta pendapat para ahli yang tahu tentang masalah ini. Saya akan suruh Petruk , Gareng dan Bagong mencari informasi. Perkenankanlah hamba mengatur siasat lebih dahulu , nati hamba akan melaporkan hasilnya kepada Gusti Prabu. “ Ki Lurah Semar kemudian mohon pamit untuk kembali ke Karang Tumaritis. Tanpa membuang waktu kemudian Semar dengan kesaktiannya meniupkan ajiannya kepada ketiga anak-anaknya. Tugas yang diberikan kepada Petruk , Gareng dan Bagong adalah berkelana kembali ke masa depan untuk menemui para ahli yang bisa di minta pendapatnya tentang telaah suatu perusahaan. Dalam sekejap Petruk , Gareng dan Bagong lenyap melesat dengan kecepatan jutaan kali kecepatan cahaya menembus ruang dan waktu meninggalkan Karang Tumaritis.

Tak lama kemudian Petruk berhasil menemui kelompok McKinsey. Setelah basa basi perkenalan dan lain-lain , akhirnya sampailah mereka berbicara tentang maksud kedatangan para punakawan Amarta. Dengan bahasa sederhana kelompok McKinsey kemudian menjelaskan konsep 7S-nya yang beberapa waktu yang lalu sering dibicarakan di Sekolah-sekolah bisnis diseluruh dunia. Untuk mendapatkan gambaran tentang postur suatu organisasi atau perusahaan , S yang pertama yang paling menentukan adalah yang disebut sebagai shared value atau nilai-nilai perusahaan yang telah disepakati bersama sebagai piranti lunak yang utama dalam suatu organisasi atau perusahaan. Ketidak sepakatan tentang shared value menjadi ukuran yang pertama yang mengindikasikan ketidak jelasan masa depan perusahaan. Piranti lunak yang kedua adalah style atau gaya , artinya semua karyawan dalam perusahaan berpikir dan bertindak dengan cara yang sama. Misalnya semua karyawan Muka Donato tersenyum kepada pelanggan , dan karyawan Aibeem bertindak sangat profesional. Piranti lunak yang ketiga adalah staff , artinya perusahaan memiliki staff yang cakap, yang dilatih dengan baik dan ditempatkan pada penugasan yang tepat. Berikutnya adalah Skill atau ketrampilan , artinya bahwa semua staff yang ada memiliki ketrampilan dan keahlian yang cukup untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari dan menjalankan strategi perusahaan.. Apabila 4 S yang pertama yang merupakan piranti lunak terdeteksi dikelola secara baik, maka biasanya perusahaan lebih berhasil dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya. Selanjutnya 3 S yang terakhir mencerminkan piranti keras perusahaan yaitu Strategi , struktur dan system.
Demikianlah konsep 7 S McKinsey dijelaskan dengan berbagai contoh praktek dilapangan di perusahaan-perusahaan pada milenium kedua. Singkat kata walaupun ada beberapa hal yang tidak bisa dipahami dengan baik oleh para punakawan Amarta karena perbedaan bahasa , namun mereka masih bisa mempertanyakan beberapa hal yang masih menjadi persoalan, antara lain tentang sudut pandang McKinsey yang terkesan beranggapan bahwa lingkungan luar perusahaan tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Bagong melihat bahwa pengalaman selama ini mereka berhadapan dengan kerabat kaum Kurawa , banyak sekali praktek-praktek strategi dan taktik yang agak licik diterapkan dalam upaya memperburuk situasi di Amarta. Oleh karena itu ia merasa perlu untuk mendapatkan opini kedua bagi pendapat McKinsey. Hal ini diiyakan oleh Petruk dan Gareng yang mengusulkan untuk mencoba menggali informasi dari praktek-praktek pada masa yang lain. Setelah beberapa pertanyaan yang diklarifikasi dari kelompok McKinsey , putra-putra Lurah Semar kemudian mohon pamit melanjutkan perjalanan melaksanakan misi pencarian informasi. Perjalanan berikutnya membawa para punakawan Amarta menuju kediaman salah seorang kritikus konsep McKinsey yaitu Richard D’Aveni. Kepada Richard D’Aveni putra-putra Lurah Semar mempertanyakan pendapatannya tentang Konsep McKinsey. Masih dengan konsep 7 S Richard D’Aveni menceritakan tentang kondisi lingkungan bisnis yang sudah sangat hiperkompetitif , dimana tidak ada suatu perusahaanpun yang memiliki keunggulan absolut terhadap para pesaingnya. Konsep McKinsey bagi Richard terkesan mencerminkan kondisi statis dimana proses pembentukan piranti lunak ini memerlukan waktu yang lama sedangkan situasi pasar bergerak terus penuh dengan kekacauan. Upaya mempertahankan competitive advantage justru akan menjadi bumerang mengingat siklus waktu penetrasi pasar semakin pendek.


Siklus yang umum terjadi pada suatu kegiatan operasional perusahaan dimulai dari tahapan launching , exploitation dan kemudian dihadapkan pada counter attack. Siklus yang panjang dan lama memungkinkan kita mempertahankan suatu competitive advantage , karena cukup lama kita bisa menikmati tahapan panen selama masa eksploitasi sebelum menerima serangan balik dari kompetitor. Namun dengan semakin memendeknya periode suatu siklus akan memaksa kita segera mengantisipasi dengan competitive advantage yang baru. Bahkan belum sempat kita tidur nyenyak menikmati panen sudah keburu di-counter attack oleh kompetitor kita. Kemampuan pengembangan dari proses R&D memungkinkan para pesaing untuk segera merespons terhadap strategi perusahaan.





Richard memperkenalkan Konsep 7 S yang baru, dimana perusahaan sekarang dihadapkan kepada pasar yang bergejolak. Oleh karena itu kemampuan perusahaan bisa dilihat dari 3 kelompok utama, yaitu

1. Kelompok yang menyangkut Visi terhadap gejolak pasar yaitu kemampuan perusahaan mengidentifikasi dan menciptakan peluang untuk keunggulan temporer melalui pemahaman atas 2 S yang pertama yaitu
a. Stakeholder Satisfaction (tidak lagi customer saja yang perlu dipuaskan tetapi berkembang bahwa semua pihak yang berkepentingan harus dipuaskan kebutuhannya). Dan
b. Strategic soothsaying (upaya kreativitas melihat kedepan untuk hal-hal yang strategis) yang diarahkan pada identifikasi hal-hal baru untuk penanganan dan pelayanan customer-customer yang ada dengan lebih baik atau customer baru yang belum terlayani oleh siapapun juga.
2. Kelompok S yang kedua yaitu kemampuan menghadapi gejolak pasar (Capacity for disruption) yang mempertahankan momentum melalui pengembangan kemampuan yang fleksible untuk speed & surprise yang dapat diaplikasikan dalam bentuk langkah-langkah untuk membangun sederetan keunggulan-keunggulan temporer.
3. Kelompok S yang ketiga yaitu tactic for disruption yang mencari inisiatif untuk mendapatkan keunggulan melalui, shifting the rules (mengganti medan persaingan disesuaikan dengan keunggulan perusahaan), signaling (memberi tanda-tanda untuk mempengaruhi interaksi-interaksi strategis dinamis dimasa yang akan datang. Melaksanakan simultaneons dan sequential strategic thrusts (memborbandir pasar dengan serangan simultan dan terus-menerus) melalui langkah-langkah yang membangun, membentuk pengaruh terhadap arah atau sifat-sifat respons pesaing.

Konsep-konsep yang didapatkan oleh keluarga Karang Tumaritis dicatat baik-baik sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Lurah Semar. Hingga saat ini Konsep Richard D’Aveni masih sangat relevan untuk diterapkan dalam upaya mendapatkan gambaran tentang postur suatu perusahaan. Kisah perjalanan putra-putra Lurah Semar sementara diakhiri lebih dulu mengingat pesan Ki Lurah Semar untuk segera bisa memberikan informasi kepada Prabu Yudistira. Sekembalinya para-para Ki Lurah Semar ke padepokan Karang Tumaritis tanpa membuang waktu. Petruk, Gareng dan Bagong langsung diajak menghadap Prabu Yudistira. Satu persatu sang Prabu mendengarkan penjelasan dari para punakawannya. Beliau berjanji untuk mempelajari Konsep-konsep masa depan yang segera akan dicoba digunakan untuk melihat kondisi badan-badan usaha di Indraprasta. Konon karena kearifan Sang Prabu palaksanaan Konsep-konsep baru membawa Amarta menjadi negara yang makmur dan sejahtera yang justru menimbulkan persoalan baru dengan Astinapura dan memicu perang Barata yang terkenal dengan “Bratayudha”. Bumi berputar, alam semesta bergerak tanpa henti, persoalan muncul silih berganti. Inilah kenyataan yang harus kita terima !!

Menggali Potensi Perusahaan untuk mencapai Visi

Para pembaca yang saya muliakan , sejak awal zaman , manusia telah mencoba menemukan arti hidup. Para filsuf telah mengabdikan hidup mereka untuk menyingkap misteri dari penciptaan kita. Salah seorang pemikir besar tingkat dunia Plato mengatakan , segala sesuatu yang diciptakan didunia ini tentunya untuk suatu tujuan. Tujuan ini ada untuk mengeluarkan potensi kita. Kita diberi kehidupan dan tujuan , maka kita hendaknya menghasilkan kesuksesan darinya. Dan kesuksesan itu hanya dapat diukur dengan membandingkan apa yang benar-benar kita capai dengan apa yang secara potensial sanggup kita capai. Definisi kesuksesan dalam hal ini bukanlah hanya sekedar lebih baik daripada orang lain , namun terutama dibandingkan terhadap potensi atau kemampuan yang kita miliki. Bersyukurlah bahwa kita terlahir sebagai manusia , makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain yang ada didunia ini. Pada dasarnya kita memiliki potensi yang sungguh luarbiasa atau bahkan ekstrimnya tidak terbatas oleh karena itu sebetulnya kesuksesan yang bisa kita capai itupun juga tidak terbatas.
Fakta mengatakan bahwa sebagian terbesar diantara kita belum memanfaatkan potensi yang kita miliki sepenuhnya. Kalau kita analogikan daya listrik yang kita miliki dirumah , kapasitasnya dipasang tidak terbatas namun sehari-harinya kita hanya menggunakan 10 watt atau bahkan hanya 5 watt saja. Selama ini juga kita terbiasa dengan pola 3 kali 8 jam artinya 8 jam kerja , 8 jam istirahat dan 8 jam tidur. Ini sudah agak obsolete. Sudah waktunya kita harus merubah pola ini. Memang tubuh kita perlu istirahat namun secukupnya. Bersyukurlah kita dianugerahi Tuhan rasa kantuk , karena dengan rasa kantuk ini kita diingatkan bahwa tubuh kita perlu istirahat. Jadi apabila kita merasa mengantuk , maka sah-sah saja kita jatuh tertidur dalam situasi apapun dan dimanapun juga bahkan disaat-saat penting sekalipun. Yang salah adalah apabila mengantuk kemudian tertidur , tidurnya dinikmati dan kita terlelap. Inilah yang salah. Kita boleh tertidur tetapi secukupnya saja supaya kita tetap sehat. Pada umumnya orang-orang yang berhasil , bekerja sehari tidak kurang dari 12 jam. Tidak berarti bahwa kita harus secara fisik menggunakan tubuh kita selama waktu tersebut , namun yang penting adalah kita memanfaatkan waktu secara maksimal untuk kegiatan-kegiatan yang produktif.
Diatas sudah saya katakan bahwa tujuan hidup akan mengeluarkan potensi yang kita miliki. Seseorang yang tidak bisa merumuskan tujuannya berarti tidak bisa memunculkan potensi yang dimiliki secara maximal. Artinya juga bahwa orang tersebut akan susah mencapai sukses. Ini bisa kita analogikan dengan kejadian dimana operator baru kehilangan buku petunjuk sebuah komputer yang unik dan canggih dengan kapasitas tinggi , sehingg karena itu operator tidak dapat memanfaatkan kapasitas penuh dari komputer. Jika masing-masing kita telah diciptakan untuk suatu tujuan spesifik yang mengiringinya, maka segala sesuatu yang perlu dicapai demi tujuan itu seharusnya sudah ada pada tempatnya. Masalahnya adalah bahwa sering kali terbelenggu oleh batasan yang kita buat sendiri dan telah menciptakan suatu rintangan bagi pencapaian kesuksesan dalam kehidupan kita. Dengan demikian marilah sekarang kita mencoba untuk mengerti dan memahami keunikan pribadi hidup terpenting dalam abad ini … yaitu diri kita sendiri.
Ini kita berbicara tentang manusia yang sudah barang tentu merupakan bagian yang sangat penting dari perusahaan , mengingat perusahaan dibangun oleh manusia dan dikerjakan oleh manusia dan juga untuk kepentingan manusia. Apabila kita sudah memahami bahwa satu orang manusia memiliki kemampuan yang begitu luar biasa bagaimana dengan gabungan beberapa orang manusia yang mestinya memiliki keuatan yang berlipat sesuai dengan jumlah manusianya. Demikian juga terkait dengan tujuan perusahaan , analogi dengan hipotesa kita diatas maka perusahaan yang tidak memiliki tujuan yang jelas juga menggambarkan ketidak jelasan masa depan perusahaan tersebut. Disini memberikan garis bawah tentang pentingnya perumusan tujuan perusahaan yang pada umumnya dilakukan secara tidak professional karena tidak memahami standard penyusunan yang baku.
Manusia adalah individu yang unik dan istimewa. Tidak ada satupun diantara kita memiliki kesamaan. Namun kebanyakan dari kita tampak tidak sanggup memahami fakta bahwa kita ini adalah merupakan kemuliaan dan karunia alam. Tidak ada batasan pada potensi kita demikian juga tidak ada batasan bagi kesuksesan. Sering kali kita membiasakan diri menutup cadangan kemampuan yang kita miliki dengan menolak menggerakkan kekuatan pilihan kita . Jika kita tidak mengharapkan apa-apa, maka kita tidak akan memperoleh apa-apa.
Sebetulnya kita sadari atau tidak , kita betul-betul memiliki potensi yang luar biasa. Marilah kita lihat contohnya otak kita. Otak kita adalah super komputer biologis. Fakta mengatakan bahwa lebih dari 10 milyar sel syaraf dalam korteks (kulit otak manusia). Antara 100.000 dan 1.000.000 reaksi kimia terjadi dalam otak anda pada waktu tertentu. Kita memiliki kemampuan menyimpan informasi 100 trilyun kata. Kemudian bagaimana dengan fisik kita. Setiap sel tubuh kita mengandung bio listrik sebesar 90 mvolt , implikasinya ialah bahwa untuk membangkitkan listrik sebesar 220 volt , kita hanya memerlukan 2000 sel dari trilyunan sel tubuh kita.
Dalam posisi kita sebagai bagian dari perusahaan ada dua kenyataan yang bisa kita temukan yaitu pertama bahwa potensi individu tidak tergali , tidak ditemukan maupun dikembangkan dan digunakan , kedua yaitu bahwa potensi yang tergali sering kali malah saling bertarung mematahkan dan hasil akhirnya malah minus.
Artinya hasil yang kita dapatkan adalah kompromistis yang valuenya jauh lebih rendah dibandingkan apabila kita bersinergis saling membangun ada added valuenya. Implikasinya adalah bahwa sebetulnya kita tidak terlalu membutuhkan orang-orang hebat yang luar biasa tetapi malah saling bertentangan. Yang kita butuhkan adalah justru orang-orang yang mampu bekerja sama secara sinergis walaupun tidak terlalu pintar. Yang penting adalah bisa dihindari orang-orang dengan perilaku yang negatif
Beberapa kesimpulan yang bisa kita sarikan :
• Dalam proses memahami Kehidupan baik manusia maupun perusahaan ; hanya yang sudah berlalu yang bisa kita pahami , padahal kita harus menjalaninya kedepan.
• Apa yang telah terjadi dan apa yang akan kita hadapi sebetulnya adalah masalah kecil dibandingkan dengan apa yang terletak dalam diri maupun perusahaan kita.
• Kita adalah makhluk hidup terpenting , kita harus mempercayai potensi tak terbatas dalam diri kita sebagai langkah pertama menuju kesuksesan baik sebagai pribadi maupun sebagai perusahaan.
• Apapun potensi kita, harus kita temukan, kita gunakan dan kita amalkan dalam rangka berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan.
• Sukses sebetulnya adalah pilihan kita , apabila kita tidak menghendaki maka hal itu tidak akan tercapai.
• Kita harus melakukan upaya tercapainya sinergis agar supaya hasil luar biasa dari masing-masing individu menjadi hasil yang luar biasa bagi perusahaan.